Selamat Datang di Website Resmi Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kuningan | Pastikan Nama Anda tercantum di DPT! Silahkan akses https://cekdptonline.kpu.go.id/ | Debat Publik Paslon Bupati dan Wakil Bupati Kuningan Tahun 2024

Publikasi

Opini

INTEGRITAS UNTUK INTEGRASI Oleh : Aan Nasrudin (Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Kuningan)   Pemilihan Umum (Pemilu) dilaksanakan setiap 5 tahun atau bisa dikatakan agenda lima tahunan dilaksanakan berdasarkan amanat dari UUD 1945 dan UU No. 7 tahun 2017 serta PKPU dan Pedoman Teknis sebagai turunannya. Dalam pelaksanaannya sudah tentu akan menyita waktu dan energi karena semua tahapan harus selesai menurut jadwal yang telah ditentukan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam hal ini terkhusus di Kabupaten Kuningan senantiasa berkomitmen terhadap asas pada penyelenggaraan Pemilu, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, yang mana untuk pemilihan serentak tahun 2024 semua tahapan telah dilaksanakan dan menghasilkan Keputusan-keputusan baik hasil pemilihan legislative maupun eksekutif. Kita masih mengingat terkait dengan tema pada Pemilu 2024 yaitu “Pemilu Sebagai Sarana Integrasi Bangsa” yang mana seluruh kepentingan dan amanat dalam ikhtiar  untuk kemajuan bangsa dari Sabang sampai Merauke ditekankan pada hasil pelaksanaan Pemilihan serentak tahun 2024, begitupun dengan kolaborasi kami sebagai penyelenggara teknis pada pemilihan di internal kantor senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai itu yang tertuang dalam komitmen integritas, kami sepakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai integritas yang harus dilaksanakan oleh seluruh jajaran satuan kerja KPU Kabupaten Kuningan. Sebagai sarana integrasi pegawai KPU Kabupaten Kuningan maka kami sepakat menjadikan lingkungan kantor sebagai wilayah zona integritas, seluruh jiwa dan raga telah berkomitmen untuk susesi keberlangsungan pemilihan-pemilihan mendatang yang dimulai dari persiapan hingga tahapan dan pelaksaan, semoga dengan menjaga nilai-nilai integritas senantiasa kami dapat berkerja dengan sebaik-baiknya untuk hasil yang maksimal. Kami sangat menyadari seluruh hasil kerja nyata kami tentu belum sempurna dan perlu perbaikan-perbaikan, untuk itu peran serta seluruh elemen Masyarakat khususnya di Kabupaten Kuningan sangat kami butuhkan untuk kepentingan Bersama dalam ikhtiar mendorong Kabupaten Kuningan menjadi lebih baik.   (Aan Nasrudin/Kadivkumwas)       

Oleh : Aof Ahmad Musyafa, SH.,MH (kadiv Parmas dan SDM KPU Kab.Kuningan) Pemilihan umum secara langsung merupakan instrumen terpenting tegaknya demokrasi yang harus tergelar secara berkala. Sebagai negara yang menganut paham demokrasi dan menuangkan keyakinannya pada Pancasila sebagai dasar bernegara, Indonesia memantapkan pemilihan secara langsung sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Namun, instrumen formal ini hanya akan menjadi ritual prosedural semata tanpa melahirkan kesadaran politik yang hidup dalam diri setiap warga.  Pada hakikatnya, kesadaran politik merupakan fondasi utama dalam melahirkan kesadaran memilih; keduanya memiliki hubungan sebab-akibat yang sangat erat. Ketika seseorang memiliki kesadaran politik yang tinggi, ia tidak lagi memandang politik sebagai urusan elit semata, melainkan sebagai mekanisme yang menentukan kualitas hidupnya sebagai warga negara. Pemahaman tersebut kemudian bertransformasi menjadi kesadaran memilih, di mana partisipasi dalam pemilu tidak lagi dianggap sekadar kewajiban administratif, melainkan sebuah instrumen kekuasaan di tangan rakyat untuk menentukan arah bangsa sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945. Di mana rakyat memegang kendali penuh atas apa yang diharapkannya.  Lebih jauh lagi, kesadaran memilih yang berlandaskan kesadaran politik akan menghasilkan partisipasi yang berkualitas. Warga yang sadar secara politik akan cenderung melakukan riset terhadap rekam jejak, visi, dan misi kandidat, sehingga lebih memahami resiko politik uang atau manipulasi informasi. Dengan kata lain, kesadaran politik memastikan bahwa tindakan memilih didasari oleh keputusan sadar untuk memberikan mandat kepada pemimpin yang dianggap paling mampu mewujudkan kesejahteraan yang diinginkan rakyat.  Pada akhirnya, sinergi antara instrumen demokrasi yang jujur dan adil dengan kesadaran politik warganegara inilah yang menguatkan sistem, menjaga keseimbangan negara, mencegah kesewenang-wenangan, dan memastikan kedaulatan rakyat benar-benar terwujud secara substantif. Sebagaimana ditekankan oleh Rama Mangunwijaya bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh dalam masyarakat yang terdidik dan berpikir rasional, dengan memberi ruang untuk musyawarah, kebebasan berpendapat, serta penghargaan terhadap perbedaan. Maka Pendidikan politik terus menurus atau berkelanjutan inilah yang menjadi prasyarat mutlak untuk merawat kesadaran politik, agar masyarakat tidak jatuh pada dekadensi moral, menjadi individu yang tidak dewasa, dan mudah terprovokasi oleh emosi yang berujung pada kekacauan. Oleh karena itu, secara substansi, Kesadaran Politik hanya bisa termansifestasi melalui pendidikan yang berkelanjutan (sustainable). Dengan begitu masyarakat akan tersadar bahwa Ia bukanlah tujuan untuk objek penghitung suara semata, tetapi untuk mengangkat mereka menjadi subjek yang sadar akan perannya dalam proses bernegara. Sinergi antara instrumen demokrasi yang jujur dan adil dengan kesadaran politik yang terdidik dan rasional inilah yang pada akhirnya mendekatkan cita-cita kemanusiaan dan keadilan kepada pemilik negara yang sah: rakyat. Dengan demikian, pemilu bukanlah akhir, melainkan sebuah titik tolak dalam siklus terus-menerus di mana kedaulatan rakyat diperkuat, dijaga, dan diwujudkan secara nyata oleh subjek-subjek politik yang cerdas dan bertanggung jawab.

  Transformasi Partisipasi: Sinergi Hubungan Masyarakat dan Komunitas dalam Sosialisasi Pendidikan Pemilih di Kabupaten Kuningan Oleh : Erik Hamdani, S.Sn., M.Si   1. Pendahuluan   1.1 Konteks Lokal Kabupaten Kuningan   Dalam lanskap demokrasi elektoral 2024, Kabupaten Kuningan menghadapi tantangan partisipasi yang unik. Sebagai wilayah dengan karakteristik geografis yang beragam—dari pusat kota yang dinamis hingga pedesaan di kaki Gunung Ciremai—pendekatan sosialisasi tidak dapat dilakukan secara monolitik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kuningan menyadari bahwa untuk menyentuh angka partisipasi yang substansial, diperlukan strategi "jemput bola" yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, hobi, dan jejaring komunitas yang kuat. Fokus utama KPU Kabupaten Kuningan adalah mengubah paradigma pemilih dari sekadar objek mobilisasi menjadi subjek yang berdaya. Hal ini tercermin dalam peluncuran maskot Pilkada Kuningan, "Pika dan Piku" (Pikeun Anjeun, Pikeun Kuningan), yang terinspirasi dari Bokor Kuningan. Simbol ini tidak hanya merepresentasikan sejarah tanah Cirebon, tetapi juga membawa pesan spiritualitas dan ajakan personal kepada masyarakat untuk terlibat aktif.1   1.2 Tujuan Laporan   Laporan ini secara khusus membedah strategi Hubungan Masyarakat (Humas) KPU Kabupaten Kuningan dalam membangun sinergi dengan: Komunitas Seni dan Budaya: Pemanfaatan seni tradisi (Wayang Golek, Kirab) dan pop (Stand Up Comedy, Film). Komunitas Hobi dan Olahraga: Pendekatan melalui klub motor, pecinta alam, dan olahraga massal. Institusi Pendidikan dan Pesantren: Penetrasi ke basis pemilih pemula dan santri. Relawan Demokrasi (Relasi): Peran agen sosialisasi di akar rumput.   2. Strategi Kebudayaan: Dari Kirab hingga Komedi   KPU Kabupaten Kuningan memanfaatkan seni sebagai bahasa universal untuk menyampaikan pesan-pesan pemilu yang sering kali dianggap kaku dan rumit.   2.1 Kirab Pemilu dan Festival Budaya   Kabupaten Kuningan menjadi salah satu titik strategis yang dilalui oleh Kirab Pemilu 2024 Jalur VII (estafet dari Papua). Penerimaan kirab dari KPU Kabupaten Pemalang ini tidak sekadar seremonial administratif, melainkan dikemas menjadi festival rakyat yang meriah.2 Rute Kirab: Arak-arakan bendera partai politik dimulai dari Taman Pandapa Paramarta, menyusuri jalan protokol Siliwangi, masuk ke kawasan Kecamatan Cigugur yang kental dengan keberagaman budaya, melewati pasar-pasar tradisional, hingga sekolah-sekolah.2 Integrasi Seni: Prosesi ini melibatkan marching band dan seni tradisional, menjadikan sosialisasi pemilu sebagai tontonan yang menghibur sekaligus edukatif bagi warga yang memadati pinggir jalan.2   2.2 Diplomasi Tawa: Stand Up Comedy   Salah satu terobosan paling sukses dari KPU Kabupaten Kuningan adalah penggunaan Stand Up Comedy sebagai media sosialisasi. Komedi dinilai efektif untuk merangkul Generasi Z yang kritis namun alergi terhadap ceramah politik konvensional. Prestasi Lokal: Strategi ini terbukti efektif dengan munculnya talenta lokal, Aldi Burik, komika asal Kuningan yang berhasil menyabet Juara 1 dalam kompetisi Stand Up Comedy Kepemiluan tingkat Provinsi Jawa Barat.3 Grand Final Lokal: KPU Kuningan juga menggelar Grand Final Lomba Stand Up Comedy Pilkada 2024 sendiri, memberikan panggung bagi komika lokal untuk me-roasting isu-isu kepemiluan, politik uang, dan partisipasi pemilih dengan cara yang jenaka namun tajam. Peluncuran Tahapan: Dalam acara peluncuran tahapan Pilkada, KPU mengundang komika lokal (Fauzi dan Ato Atok) untuk menghibur ribuan anggota PPS dan PPK, mencairkan ketegangan beban kerja penyelenggara dengan humor segar.1   2.3 Sinematografi di Pesantren dan Kampus   Program "KPU Goes to Pesantren" dan "Goes to Campus" menggunakan film sebagai pintu masuk diskusi. Nonton Bareng (Nobar): Pemutaran film "Kejarlah Janji" dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Muttawaly, Desa Bojong, Kecamatan Cilimus, bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Kegiatan ini dihadiri oleh santriwan dan santriwati, membuka ruang dialog tentang demokrasi dalam perspektif santri.4 Diskusi Kampus: Di STKIP Muhammadiyah Kuningan, nobar film ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif, mengajak mahasiswa untuk membedah visi misi calon pemimpin dan tidak terjebak pada janji manis kampanye.6   3. Sinergi Komunitas Hobi dan Olahraga   KPU Kabupaten Kuningan menyadari bahwa masyarakat berkumpul dalam komunitas hobi yang solid. Masuk ke dalam lingkaran ini memungkinkan pesan pemilu menyebar secara organik.   3.1 Komunitas Motor: Touring Demokrasi   Mengingat topografi Kuningan yang berbukit, komunitas motor memiliki basis yang kuat. KPU memanfaatkannya melalui kegiatan "Touring Demokrasi Road to 27 November". Pelaksanaan: Bertempat di Pendopo Kantor Bupati Kuningan, kegiatan ini melibatkan komunitas motor dalam konvoi tertib lalu lintas yang membawa atribut sosialisasi.7 Pesan Strategis: Pelepasan tim touring oleh Kepala Divisi Sosparmas KPU Kuningan, Aof Ahmad Musyafa, menyimbolkan bahwa sosialisasi harus "bergerak" menjangkau seluruh pelosok desa, sebagaimana daya jelajah komunitas motor.7 Kegiatan ini juga menyasar Generasi Z yang mendominasi demografi pemilih (54%) dan komunitas hobi otomotif.7   3.2 Olahraga dan Kesehatan Demokrasi   Kegiatan olahraga massal digunakan untuk membangun atmosfer positif ("Riang Gembira") menyambut pemilu. Jalan Sehat: KPU menggelar jalan sehat yang diikuti oleh ribuan masyarakat dan penyelenggara pemilu. Selain sebagai ajang kebugaran, acara ini menjadi show of force kesiapan penyelenggara dalam melaksanakan pemilu yang aman dan damai.8 Senam Massal: Diadakan bersama LBH Ansor dan kelompok pemuda, kegiatan ini menggabungkan kesehatan fisik dengan edukasi politik ringan di sela-sela istirahat.9   4. Pendidikan Pemilih: Masuk ke Ruang Kelas dan Kampus   Intervensi ke institusi pendidikan dilakukan secara intensif untuk membentuk pemilih pemula yang rasional.   4.1 KPU Goes to School & Campus   KPU Kuningan secara aktif mengunjungi sekolah dan kampus dengan format acara yang disesuaikan dengan selera anak muda. Pendekatan Populer: Di MAN 2 Kuningan, sosialisasi tidak dilakukan dengan pidato kaku, melainkan dipandu oleh penyiar radio profesional (Host Megaswara FM) dan menghadirkan narasumber dari KPU serta Bawaslu. Format talkshow ini membuat siswa lebih berani bertanya tentang teknis mencoblos dan cara mengenali hoaks.10 Fakultas Hukum UNIKU: Sosialisasi di Universitas Kuningan (UNIKU) menekankan pada aspek hukum dan tata cara memilih yang sah, mengingat mahasiswa hukum adalah calon pengawal regulasi di masa depan.11 Pemilihan OSIS: KPU mendorong sekolah-sekolah seperti SMAN 1 Cigugur untuk mengadopsi sistem pemilu dalam pemilihan ketua OSIS, menjadikan sekolah sebagai laboratorium demokrasi mini.12   4.2 Peran Strategis Relawan Demokrasi (Relasi)   Relawan Demokrasi di Kuningan dibekali dengan metode BRIDGE (Building Resources in Democracy, Governance and Elections) agar mampu menjadi fasilitator andal.13 Kreativitas Konten: Relasi Kuningan memproduksi video klip musik "Ayo Memilih!" versi lokal. Video ini menggunakan bahasa dan gaya visual yang dekat dengan masyarakat Kuningan, efektif menyebar di grup WhatsApp warga dan media sosial.[16] Segmentasi Basis: Relawan bergerak di 10 basis pemilih, termasuk basis komunitas (seperti komunitas GBK - Gabungan Baraya Kuningan) dan basis marjinal, untuk memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal informasi.   5. Manajemen Kehumasan dan Tantangan Lokal   5.1 Peran Humas dan Bakohumas   Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat (Sosdiklih Parmas) KPU Kuningan, di bawah koordinasi Kasubbag Chaeruman Setia Nugraha, aktif dalam jejaring Bakohumas (Badan Koordinasi Kehumasan). Forum ini menjadi wadah knowledge sharing untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan media sosial dan manajemen krisis informasi.14 Strategi Digital: Mengikuti program "Parmas Insight" tingkat provinsi, KPU Kuningan mengoptimalkan media sosial (Instagram, TikTok) untuk menjangkau pemilih muda yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam sehari di dunia maya.15   5.2 Tantangan di Lapangan   Meskipun strategi komunitas telah berjalan, beberapa tantangan spesifik di Kuningan tetap teridentifikasi: Akses Geografis: Wilayah pedesaan di Kuningan yang berbukit membutuhkan upaya ekstra dari Relawan Demokrasi dan komunitas motor untuk menjangkau pemilih di daerah terpencil. Isu Lokal: Tuntutan transparansi dari elemen mahasiswa (seperti IMM) mengenai kinerja KPU dan isu sosial lainnya menuntut Humas KPU untuk responsif dan terbuka dalam menanggapi kritik publik.   6. Kesimpulan   Strategi sosialisasi KPU Kabupaten Kuningan pada Pemilu 2024 menunjukkan adaptasi yang kuat terhadap karakteristik lokal. Dengan menggandeng komunitas seni (melalui maskot Bokor Kuningan dan Stand Up Comedy), komunitas hobi (Touring Motor), serta institusi pendidikan, KPU berhasil mentransformasi pemilu menjadi agenda milik bersama. Sinergi ini tidak hanya meningkatkan angka partisipasi secara kuantitatif, tetapi juga berupaya membangun kualitas pemilih yang lebih cerdas dan kritis. Keberhasilan komika lokal Kuningan menjuarai kompetisi tingkat provinsi menjadi bukti bahwa pendekatan kreatif adalah kunci untuk memenangkan hati pemilih muda di Kota Kuda.   Tabel: Matriks Kegiatan Sosialisasi Spesifik Kabupaten Kuningan   Kategori Kegiatan Unggulan Mitra/Lokasi Dampak/Capaian Sumber Seni & Kreativitas Stand Up Comedy Komika Lokal (Aldi Burik, Fauzi, Ato) Juara 1 Tingkat Jabar; Mencairkan suasana peluncuran tahapan.     Maskot "Pika & Piku" Pandapa Paramartha Simbol identitas lokal (Bokor) yang memperkuat rasa memiliki (sense of belonging).     Nobar "Kejarlah Janji" Pesantren Al-Muttawaly, STKIP Muhammadiyah Pendidikan politik santri & mahasiswa via edutainment.   Hobi & Olahraga Touring Demokrasi Komunitas Motor, Pendopo Bupati Penetrasi ke segmen hobiis otomotif & mobilitas sosialisasi.     Jalan Sehat/Senam LBH Ansor, Masyarakat Umum Konsolidasi massa & show of force kesiapan pemilu damai.   Pendidikan KPU Goes to School MAN 2 Kuningan, SMAN 1 Cigugur Diskusi interaktif dengan Host Radio; Simulasi Pemilu OSIS.   Relawan (Relasi) Video Klip & Sosialisasi Komunitas GBK, Basis Warga Viralitas konten digital lokal; Penjangkauan basis marjinal.    

Oleh : Maman Sudiaman (Komisioner KPU Kab. Kuningan Divisi Perencanaan, Data dan Informasi) Berbeda dengan generasi Y (lahir diusia 1981-1996),  generasi Z lebih "dipaksa" menyaksikan perhelatan Demokrasi dengan segala dinamikanya. Misalnya diusia saya, dulu kabar demokrasi hanya ada di televisi, itupun di acara berita atau News. Dan tentu saja kebanyakan diusia remaja lebih memilih chanel lain. Namun kontras dengan hari ini, fyp diberbagai flatform medsos seakan memaksa  kabar itu datang untuk ditonton. Bagi saya ini positif,  bagaimana Gen-Z lebih leluasa memahami makna Demokrasi . Maka sekolah harus menangkap fenomena ini, gunakan Medsos sebagai alternatif pendidikan Demokrasi, dan Pancasila.  Namun karena disisi lain medsos tidak memiliki batasan redaktur, sehingga tidak sedikit konten yang tidak visible, dan hanya menayangkan situasi politik praktis saja. Dan ini kurang sehat, jangan sampai kalangan pemula ikut arus pada tataran praktis.  Jadi sekolah, harus pula memaksa, bagaimana cara agar mendorong medsos menjadi alternatif referensi. Misalnya materi kewarganegaraan, pengayaan makna Demokrasi, pemilu, budaya dsb. Paling tidak, setiap ada penekanan seperti itu dari setiap mata pelajaran, fyp medsos nya diwarnai dengan kebutuhan seusianya.

Oleh : Maman Sudiaman (Komisioner KPU Kabupaten Kuningan) Pemilu dengan jumlah pemilih lebih dari 200 juta dan hampir 2 juta pemilih diaspora, dan dilaksanakan serentak dalam sehari dengan waktu bersamaan, Indonesia patut menjadi contoh Pemilu di dunia. Berbagai dinamika sama tahapan, mulai dari kompetisi para peserta, kompetisi para relawan, konsolidasi pemangku kebijakan pusat hingga daerah, sampai andil masyarakat yang ikut secara langsung atau tidak dalam mengawal pemilu. Semangat Pemilu setiap masanya, harus menjadi semangat yang sama pada Pemilihan kepala desa serentak yang mulai dilaksanakan tahun 2027.